Sunday, 4 September 2016

Pernahkah Kau Bertanya, "Bagaimana Bila Pohon Mahoni Dapat Berbicara"?

(Ini adalah cerpen anak-anak yang saya tulis dalam sebuah sayembara menulis dongeng sekitar awal tahun 2016.)

***
Aku suka tumbuhan, begitu pula dengan kedua orangtua dan abangku. Papoy seorang ahli botani dan Mamoy gemar sekali mengoleksi tanaman hias. Sudah 4 bulan sejak Abang meninggalkan rumah. Papoy bilang karena dirinya bukan lagi seorang siswa, melainkan ma-ha-sis-wa, jadi harus mandiri. Aku tidak paham apa yang ia maksud dengan ma-ha-sis-wa tapi aku rindu sekali jalan-jalan sore di Hutan Kota bersama Abang. Selain karena hutan cantik sekali di kala senja, juga karena ia selalu membelikanku lumpia telur besar (Ssst! Tapi ini rahasia kita ya, jangan beritahu Mamoy. Ia tidak suka kami jajan sembarangan di pinggir jalan!).

Tiap minggu pagi—jika Ipung tidak mengajakku bermain PS—aku akan mendengar Mamoy mengomeli ayam kampung tetangga sebelah yang menggerogoti tanaman obat kami. Mamoy menjaga kesehatan tanaman-tanamannya sebaik ia menjaga kesehatan suami dan anak-anaknya. Pernah suatu waktu aku merengek minta dibelikan anak ayam warna-warni yang dijual di pasar kaget dekat rumah, Mamoy bilang, “Ama gak kasihan lihat anak-anak ayamnya terpisah dari orangtua? Huhuu,” Mamoy berusaha menirukan suara isak tangis anak ayam, “aku mau pulaaang, aku mau ketemu mamaa." sambungnya. 

Di kemudian hari aku sadar itu hanyalah alasan Mamoy yang tidak ingin aku memelihara calon predator bunga-bunga kesayangannya. Tapi bagaimanapun juga, aku tetap menginginkan anak ayam itu. Aku mau yang ungu, jadi aku beritahu Papoy.
Papoy hanya menjawab "Hmm."
***
Keesokan harinya, aku dikagetkan dengan sebuah tanaman kaktus mungil yang tumbuh di dalam pot yang sama mungilnya pula, bertengger di kusen jendelaku. “Ama piara kaktus aja ya, kalo udah gedean, nanti bunganya muncul. Warna ungu. Cantiiik sekali.”  Papoy juga menyuruhku menamai kaktus gundul itu. Haruslah sebuah nama yang bagus dan pantas, sebab kata Uwak Yajid—guru agama sekolahku—nama adalah doa, maka aku namai si Kaktus “Sasuke” karena aku ingin kelak kaktus mungilku bisa tumbuh sehebat dan sekeren Sasuke, jagoanku di film Naruto. Sebelum ayah meninggalkan kamar, ia mengingatkan, “Namain kaktusnya yang bagus ya. Nanti kalo gak bagus, dia nangis "Huhuuu, aku mau ke mamaa”

***
Pagi ini aku bangun dengan semangat seperti Ultraman! Pak Tomo—wali kelasku—menyuruh kami membawa sesuatu yang paling kami sukai untuk kemudian dipresentasikan di depan kelas. Sejak semalam aku bingung harus pilih yang mana; ensiklopediku kah? Miniatur Ultramanku kah? Sasuke kah? Hmm, sejujurnya sampai sekarang aku masih bingung, jadi aku putuskan untuk membawa ketiga-tiganya. Aku ingin teman-teman kagum melihat semua koleksiku.

***
Papoy bilang pagi ini aku harus jalan sendiri ke sekolah karena dirinya diharuskan kerja ke luar kota. Ensiklopedia botaniku telah aku masukan ke dalam tas, begitu pula dengan Ultraman. Kubungkus Sasuke dengan kantung plastik swalayan agar tanahnya tidak tumpah sembari ia kududukan di dalam tas bersama Ensiklopedia, Ultraman, dan buku-buku sekolah lainnya. Berat juga rupanya. Mamoy bertanya apakah aku mau dipanggilkan mamang becak, tapi kutolak karena aku sudah janji akan ke sekolah bersama Ipung.

Aku ingat kata Bibi, setakut-takutnya kita pada setan, haruslah kita lebih takut pada Tuhan. Tapi kupikir pasti Bibi tidak pernah ke warung dan mendapati Bruno, anjing pak Ganang, tidak terikat dan mengerang ganas memperhatikan gerak-gerik siapapun yang lewat dengan teliti. Di sanalah aku. Berdiri kaku, ragu untuk melangkah, dengan Bruno yang kini melihatku seperti lauk. Entah apa yang kupikirkan saat aku memutuskan untuk berlari kencang, masuk ke gang-gang kecil, menjauh dari Bruno yang rupanya juga membuatku semakin jauh dari sekolah. Dapat kurasakan paru-paruku serasa mau pecah. Kurebahkan badan di bawah sebuah pohon Mahoni dan kulirik kiri-kanan, berharap Bruno tidak mengikuti. Kubuka tasku, betapa kagetnya aku mendapati buku-buku dan Ultraman telah berlumuran tanah. Rupanya aku tidak mengikat kantung Sasuke cukup kencang! Kurasakan mataku mulai terasa panas dan dadaku semakin sesak, namun tiba-tiba aku merasa seperti ada yang mencolek pundakku. “Haloo, halooo”, sapanya. Kuperhatikan sekelilingku, namun tidak ada orang. Lalu siapa yang memanggil-manggil itu?
“Haha, berbaliklah, nak. Aku tepat di belakangmu” Aku balikkan badan dan wah, betapa kagetnya aku melihat pohon Mahoni di belakangku tersenyum dengan hangat, dedaunannya mengusap air mata di pelupuk mata.
“Kenapa kamu menangis?”
“Kaktus mungilkuu…. aku…aku…”
“Shh, jangan menangis”
“Tapi lihat Sasuke sekarang! Batangnya patah terhimpit buku dan tanahnya menumpahi seluruh isi tasku, huhuu,” “Aku sedih karena Sasuke sedih, aku gagal menjaganya, padahal aku telah berjanji pada Papoy. Papoy pasti marah”
“Kenapa tidak kamu pegang saja kaktusmu tadi?”
“Karena aku takut menjatuhkannya, tapi, tapi, huhuuuu, aku malah menumpahkannya” “Apa yang harus aku katakan pada Papoy?”
“Shhh, tenang, nak,” Bisik Paman Mahoni dengan penuh kelembutan, “katakan saja yang sejujurnya pada ayahmu”
“Tapi aku takut Papoy marah”
“Ya, semua manusia memiliki rasa takut. Tapi bukankah akan lebih menakutkan jika kamu tidak segera beritahu ayah dan akhirnya tidak dapat menyelamatkan Sasuke?” Aku terdiam mendengar ucapan Paman Mahoni.
“Paman yakin Papoy tidak akan marah?”
“Haha, aku tidak tahu, itu adalah sesuatu yang harus kita lihat sendiri. Satu yang aku tahu; kebaikan senantiasa mengikuti mereka yang berbuat jujur dan bertanggung jawab”
“Huu… berarti Papoy ‘bisa jadi’ marah?”
“Tidak semua orang akan membalas kejujuran kita dengan dada yang lapang, tapi dengan kejujuran, dada kita akan senantiasa dilapangkan” “Jangan khawatir dengan apa yang belum terjadi dan jangan ratapi apa yang telah terjadi. Kita hidup di masa sekarang, lakukanlah apa yang bisa kamu lakukan untuk membuat masa sekarang lebih bermakna” Mendengar nasehat Paman Mahoni, kukeluarkan buku-buku dan Utraman, lalu kutampung tanah yang masih bersisa di dalam pot. Dengan hati-hati, kutanam kembali Sasuke dan kubisikkan “Maafin aku ya, aku janji lain kali akan menjagamu dengan lebih hati-hati”
“Namamu siapa, nak”
“Brama, tapi Mamoy, Papoy, Abang, dan seluruh teman-teman di sekolah memanggilku Ama”
“Brama. Nama yang indah, berarti ‘api’”api bisa saja memusnahkan, tapi kamu memutuskan untuk memberi kehidupan”
Wah, api. Aku baru tahu arti namaku. Setelah aku rapikan kembali isi tas, aku berbalik untuk mengucapkan selamat jalan pada Paman Mahoni. “Terima kasih, paman. Aku—“ Tapi kosong. Di hadapanku tidak kulihat apapun selain sebuah pohon Mahoni tua dan daun-daun berguguran tertiup angin.

Depok, 9 Februari 2016

No comments:

Post a Comment