Wednesday, 15 March 2017

Ahay Nurlaila



Waktu umur Laila 16 tahun, anak penjaga kantin sekolahnya bilang “Lo masih terlalu muda untuk paham cinta.” Umur anak penjaga kantin waktu itu mungkin 23 tahun. Mungkin, ya. Mung-kin. Laila tidak pernah benar–benar tau berapa usia ataupun pekerjaannya. Beberapa tahun Laila kuliah, si anak penjaga kantin dikabarkan menikah dengan penjaga laboratorium fisika sekolahnya. Umur Laila sudah bukan remaja lagi, tapi belum pula ia cukup dewasa. Di usianya yang ke 22, ia masih berusaha merumuskan apa tambah apa sehingga dapat menjadi sama dengan cinta. Laila tahu cinta memang tidak terbatas pada hubungan antara perempuan dan laki-laki secara romantis saja. Bukankah cinta bisa terjalin antar teman dan hubungan kekeluargaan juga? Tapi rasanya dia tidak pernah harus berpikir keras karena hubungannya dengan orangtua dan teman.



Di penghujung SMP, Laila gemar membaca novel-novel Metropop. Lebih relatable katanya ketimbang Teenlit. Di pertengahan masa SMA, ia jadi suka baca stensilan—baik yang online maupun offline. Lebih dewasa dan realitis, kata Laila. Di masa ini pula, Laila mulai serius berpacaran. Bertemulah ia dengan Ali pada suatu musim pancaroba. Ali mancung, putih, bermata teduh, rapi, dan cerdas (atau setidaknya ber-usaha untuk terlihat cerdas di mata Laila). Dari berbagai kelebihan yang dimiliki Ali, haruslah kenyataan bahwa Ali tidak berkacamata yang membuat Laila mengakhiri hubungannya dengan Ali pada bulan ketiga mereka berpacaran. Laila bilang, “Lelaki berkacamata memperlihatkan intelektualitas hakiki, tandanya ia banyak membaca. Banyak membaca berarti banyak kebijaksanaan.”



Alangkah gampangnya hidup apabila masalah percintaan bisa selesai sekadar dengan kacamata.



Tapi Ali tidak suka diputuskan Laila—terlebih lagi ketika ia sedang menghadapi seleksi Olimpiade Astronomi yang pada dasarnya ia ikuti atas desakan Laila. “Kau cerdas! Potensial! Sayang sekali apabila tidak kau pergunakan potensimu itu”, begitu ceramah Laila. Jadi Ali memohon dan memohon dan memohon agar dapat kembali dengan Laila. Dan berhasil! Luluhlah hati perempuan itu saat ia datangi rumahnya jam 8 malam berkacamata Ray-Ban hitam frame tebal yang serasi sekali dengan wajah putihnya. Entah dibeli di mana, besar kemungkinan di pinggiran jalan saat ia menuju rumah Laila, tapi Laila sudah gelap mata. Jujur ia putuskan Ali hanya karena kacamata. Tapi jujur, Ali ingin kembali hanya karena dendam.



Bulan keenam berpacaran, Ali merebut ciuman pertama Laila, bulan ketujuh ia robek selaput daranya. Tentu sambil mengenakan Ray-Ban hitam frame tebal yang ia bilang minus 1,75 itu. Laila, dengan segenap harapan dan angan-angan yang terbangun dari bacaan Metropop dan stenstilannya merasa di atas awan. Alamak! Inikah rasanya buah terlarang itu? Laila sampai berikrar di tengah cumbuannya dengan Ali, ‘Suatu saat aku akan menikahimu dan menjadi ibu bagi anak-anakmu!’



Seminggu setelah perayaan tahun pertama hubungan mereka, Ali mulai bertingkah yang tidak pernah ada di buku-buku bacaan Laila. Ia tidak lagi memanggil Laila “Sayang”, tidak lagi berusaha membujuk Laila yang sedang marah, tidak lagi mempedulikan orang-orang sekitar saat digosipkan dengan perempuan lain.

“Sumpah, Bulan cuma temen.” bela Ali

“Kok temen sampe dicie-ciein gitu?” tanya Laila.

“Ya biasalah anak-anak kelas emang sering gitu”

Oh yaudah, pikir Laila. Mungkin memang hanya teman. Mung-kin.



Saat diterima berkuliah di salah satu universitas ternama negeri, Ali dan Laila terpisah pulau. Desember tanggal 4, Ali menuntaskan dendamnya. Ia sampaikan kepada Laila, “Kita putus saja ya, aku gak kuat LDR”.

Oh, yaudah, pikir Laila. Mungkin memang tidak kuat LDR. Mung-kin.



Dua hari berikutnya, Ali memasang foto sedang ciuman dengan teman sekampungnya di BBM. Pacar baru ternyata. Ia tidak pernah lagi mengenakan Ray-Ban hitam frame tebal yang membuat Laila tergila-gila. Laila menyesal, jadi benaran gila, mengkhatamkan 2 buku Felix Siaw dalam semalam, lalu memutuskan untuk jadi anak Mushollah. Di sana, ia diajarkan untuk mencintai karena Allah.



Apakah ia benar-benar bisa mencintai karena Allah? Rasanya Allah tidak pernah memberinya cinta sebagaimana yang ada dalam kajian-kajian ayat yang Laila lakukan. Sekeluarnya ia dari perkumpulan remaja masjid 3 bulan setelah bergabung, Ali kembali menghubungi Laila, menyampaikan bahwa ia sudah putus dari Aisha. Kenapa? tanya Laila. Diselingkuhin, jawab Ali. Maka rujuklah Ali dan Laila sesudahnya. Dasar manusia setelah menicipi kue yang lebih enak dari sebelumnya, dua bulan rujuk dengan Ali ia bertemu Gafur, seorang senior yang menawarkan stabilitas dan ketenangan. Putuslah lagi Laila dan Ali—kali ini dengan Ali yang merengek-rengek penuh sesal.Tapi setahun Gafur menyanjung Laila dengan berbagai macam lantunan ayat suci, barulah diketahui rupanya Gafur telah berkeluarga. Pantas ia tidak pernah mendengar ungkapan ‘will you marry me’ meluncur dari mulut Gafur bahkan setelah 1 tahun mereka bersama.



Laila masih belum lelah beribadah pada YME, masih belum merasa dikhianati. Setahun berikutnya ia bertemu Karim. Ini pasti kehendak Tuhan mempertemukannya dengan lelaki yang sangat sesuai dengan angan-angan Metropop dan stensilannya. Karim seorang pria mapan, tampan, dan terlebih lagi, berkacamata. Ia meminta Laila untuk mengikutinya dinas ke Medan. Di sana, Karim lucuti tiap helai kain yang menempel pada Laila hingga telanjang bulat lah ia sebagaimana dulu dilahirkan, lalu Karim matikan lampu kamar hotelnya. Ponsel Karim bergetar, Laila mempersilakan Karim mengangkat. Tidak banyak yang Karim katakan, hanya sebuah “Siap” dengan nada ramah. 

Karim melumat bibir Laila, yang atas dan yang bawah. Kemudian bel kamar dibunyikan dari luar. Karim beranjak girang, sedangkan Laila merasa kurang senang. Suasana kamar yang remang sama sekali tidak mengganggu pandangan Laila akan tamu yang sedang berdiri di depan pintu. Laila kaget. 'Wah, apa-apaan ini?' pikirnya. Seorang perempuan, seumuran dengan Laila. Mungkin lebih muda darinya. Gafur menuntun perempuan itu masuk ke kamar, memberi jeda baginya memperhatikan Laila dari atas hingga lutut dengan sebuah senyuman ramah, lalu mencium perempuan itu dengan mesra. “Happy anniversary, sayang. Kamu emang mau nyoba threesome kan?”. 

Wah, apa-apaan ini?' pikirnya



Ahay, Nurlaila..... Kalau tidak selingkuh, diselingkuhi, jadi selingkuhan. Sampai usianya yang ke-22, Laila masih berusaha merumuskan apa tambah apa menjadi sama dengan cinta. Sebab yang selama ini ia tahu tentang cinta hanyalah berbohong dan dibohongi—atau yang dibilang penjaga kosnya, Manajemen Informasi.