Waktu umur Laila 16 tahun, anak penjaga kantin
sekolahnya bilang “Lo masih terlalu muda untuk paham cinta.” Umur anak penjaga
kantin waktu itu mungkin 23 tahun. Mungkin, ya. Mung-kin. Laila tidak pernah
benar–benar tau berapa usia ataupun pekerjaannya. Beberapa tahun Laila kuliah,
si anak penjaga kantin dikabarkan menikah dengan penjaga laboratorium fisika
sekolahnya. Umur Laila sudah bukan remaja lagi, tapi belum pula ia cukup dewasa.
Di usianya yang ke 22, ia masih berusaha merumuskan apa tambah apa sehingga
dapat menjadi sama dengan cinta. Laila tahu cinta memang tidak terbatas pada
hubungan antara perempuan dan laki-laki secara romantis saja. Bukankah cinta
bisa terjalin antar teman dan hubungan kekeluargaan juga? Tapi rasanya dia
tidak pernah harus berpikir keras karena hubungannya dengan orangtua dan teman.
Di penghujung SMP, Laila gemar membaca
novel-novel Metropop. Lebih relatable katanya ketimbang Teenlit. Di
pertengahan masa SMA, ia jadi suka baca stensilan—baik yang online maupun
offline. Lebih dewasa dan realitis, kata Laila. Di masa ini pula, Laila
mulai serius berpacaran. Bertemulah ia dengan Ali pada suatu musim pancaroba.
Ali mancung, putih, bermata teduh, rapi, dan cerdas (atau setidaknya ber-usaha
untuk terlihat cerdas di mata Laila). Dari berbagai kelebihan yang dimiliki
Ali, haruslah kenyataan bahwa Ali tidak berkacamata yang membuat Laila mengakhiri
hubungannya dengan Ali pada bulan ketiga mereka berpacaran. Laila bilang, “Lelaki
berkacamata memperlihatkan intelektualitas hakiki, tandanya ia banyak membaca.
Banyak membaca berarti banyak kebijaksanaan.”
Alangkah gampangnya hidup apabila masalah
percintaan bisa selesai sekadar dengan kacamata.
Tapi Ali tidak suka diputuskan Laila—terlebih lagi
ketika ia sedang menghadapi seleksi Olimpiade Astronomi yang pada dasarnya ia
ikuti atas desakan Laila. “Kau cerdas! Potensial! Sayang sekali apabila tidak
kau pergunakan potensimu itu”, begitu ceramah Laila. Jadi Ali memohon dan
memohon dan memohon agar dapat kembali dengan Laila. Dan berhasil! Luluhlah
hati perempuan itu saat ia datangi rumahnya jam 8 malam berkacamata Ray-Ban
hitam frame tebal yang serasi sekali dengan wajah putihnya. Entah dibeli
di mana, besar kemungkinan di pinggiran jalan saat ia menuju rumah Laila, tapi
Laila sudah gelap mata. Jujur ia putuskan Ali hanya karena kacamata. Tapi
jujur, Ali ingin kembali hanya karena dendam.
Bulan keenam berpacaran, Ali merebut ciuman
pertama Laila, bulan ketujuh ia robek selaput daranya. Tentu sambil mengenakan
Ray-Ban hitam frame tebal yang ia bilang minus 1,75 itu. Laila, dengan
segenap harapan dan angan-angan yang terbangun dari bacaan Metropop dan stenstilannya
merasa di atas awan. Alamak! Inikah rasanya buah terlarang itu? Laila sampai berikrar di tengah cumbuannya dengan Ali, ‘Suatu
saat aku akan menikahimu dan menjadi ibu bagi anak-anakmu!’
Seminggu setelah perayaan tahun pertama
hubungan mereka, Ali mulai bertingkah yang tidak pernah ada di buku-buku bacaan
Laila. Ia tidak lagi memanggil Laila “Sayang”, tidak lagi berusaha membujuk
Laila yang sedang marah, tidak lagi mempedulikan orang-orang sekitar saat
digosipkan dengan perempuan lain.
“Sumpah, Bulan cuma temen.” bela Ali
“Kok temen sampe dicie-ciein gitu?” tanya
Laila.
“Ya biasalah anak-anak kelas emang sering gitu”
Oh yaudah, pikir Laila. Mungkin memang hanya
teman. Mung-kin.
Saat diterima berkuliah di salah satu
universitas ternama negeri, Ali dan Laila terpisah pulau. Desember tanggal 4,
Ali menuntaskan dendamnya. Ia sampaikan kepada Laila, “Kita putus saja ya, aku
gak kuat LDR”.
Oh, yaudah, pikir Laila. Mungkin memang tidak
kuat LDR. Mung-kin.
Dua hari berikutnya, Ali memasang foto sedang ciuman
dengan teman sekampungnya di BBM. Pacar baru ternyata. Ia tidak pernah lagi
mengenakan Ray-Ban hitam frame tebal yang membuat Laila tergila-gila.
Laila menyesal, jadi benaran gila, mengkhatamkan 2 buku Felix Siaw dalam
semalam, lalu memutuskan untuk jadi anak Mushollah. Di sana, ia diajarkan untuk
mencintai karena Allah.
Apakah ia benar-benar bisa mencintai karena
Allah? Rasanya Allah tidak pernah memberinya cinta sebagaimana yang ada dalam kajian-kajian
ayat yang Laila lakukan. Sekeluarnya ia dari perkumpulan remaja masjid 3 bulan
setelah bergabung, Ali kembali menghubungi Laila, menyampaikan bahwa ia sudah
putus dari Aisha. Kenapa? tanya Laila. Diselingkuhin, jawab Ali. Maka rujuklah
Ali dan Laila sesudahnya. Dasar manusia setelah menicipi kue yang lebih enak
dari sebelumnya, dua bulan rujuk dengan Ali ia bertemu Gafur, seorang senior
yang menawarkan stabilitas dan ketenangan. Putuslah lagi Laila dan Ali—kali ini
dengan Ali yang merengek-rengek penuh sesal.Tapi setahun Gafur menyanjung Laila
dengan berbagai macam lantunan ayat suci, barulah diketahui rupanya Gafur telah
berkeluarga. Pantas ia tidak pernah mendengar ungkapan ‘will you marry me’
meluncur dari mulut Gafur bahkan setelah 1 tahun mereka bersama.
Laila masih belum lelah beribadah pada YME,
masih belum merasa dikhianati. Setahun berikutnya ia bertemu Karim. Ini pasti
kehendak Tuhan mempertemukannya dengan lelaki yang sangat sesuai dengan
angan-angan Metropop dan stensilannya. Karim seorang pria mapan, tampan, dan
terlebih lagi, berkacamata. Ia meminta Laila untuk mengikutinya dinas ke Medan.
Di sana, Karim lucuti tiap helai kain yang menempel pada Laila hingga telanjang
bulat lah ia sebagaimana dulu dilahirkan, lalu Karim matikan lampu kamar
hotelnya. Ponsel Karim bergetar, Laila mempersilakan Karim mengangkat. Tidak
banyak yang Karim katakan, hanya sebuah “Siap” dengan nada ramah.
Karim melumat
bibir Laila, yang atas dan yang bawah. Kemudian bel kamar dibunyikan dari luar. Karim beranjak girang, sedangkan Laila merasa kurang senang. Suasana kamar yang
remang sama sekali tidak mengganggu pandangan Laila akan tamu yang sedang
berdiri di depan pintu. Laila kaget. 'Wah, apa-apaan ini?' pikirnya. Seorang perempuan, seumuran dengan Laila. Mungkin
lebih muda darinya. Gafur menuntun perempuan itu masuk ke kamar, memberi
jeda baginya memperhatikan Laila dari atas hingga lutut dengan sebuah senyuman
ramah, lalu mencium perempuan itu dengan mesra. “Happy anniversary, sayang.
Kamu emang mau nyoba threesome kan?”.
Wah, apa-apaan ini?' pikirnya
Ahay, Nurlaila..... Kalau tidak selingkuh,
diselingkuhi, jadi selingkuhan. Sampai usianya yang ke-22, Laila masih berusaha
merumuskan apa tambah apa menjadi sama dengan cinta. Sebab yang selama ini ia
tahu tentang cinta hanyalah berbohong dan dibohongi—atau yang dibilang penjaga
kosnya, Manajemen Informasi.
No comments:
Post a Comment