“Menurut gue mending lo gak pake jilbab sekalian daripada lo pake jilbab tapi masih cipokan ama ngebir, haha.”
Kata ganti orang kedua tunggal ‘lo’ tidak ditujukan kepada saya, tapi
kalaupun benar saya perempuan berjilbab yang masih berbuat zinah dan maksiat, tidak
masalah, saya toh tidak berkewajiban menjadi suri tauladan akhlak terpuji untuk memenuhi ekspektasi
saudara-saudari sekalian.
Kemarin siang teriknya bukan main, saya
mengenakan jilbab dan baju terusan hitam ke kampus (‘cause I was too lazy to dress up but I still wanted to look like I tried LOL). Saya sedikit terburu-buru sebab sudah terlambat 15
menit dari waktu yang telah dijadwalkan. Sesampainya di gedung 4 kampus,
firasat mengatakan bahwa saya harus segera memeriksa Line untuk memastikan
kondisi kelas, dan benar saja, rupanya
10 menit yang lalu seorang teman mengirim pesan untuk mengabarkan bahwa kelas
hari itu ditiadakan. Well, that sucks, I
just busted Rp10.000,- for a canceled class. Masalah kuliah yang klise.
Karena datang ke kampus dengan
terburu-buru, saya tidak sempat meluangkan waktu lebih untuk menata jilbab
dengan baik sehingga wajah saya jadi terlihat seperti belewah. It took me around half an hour untuk
sekadar menata jilbab di kamar mandi kampus. And you know what? It sucks. It sucks karena pakai jilbab tidak
serta merta membuat diri Anda terhindar dari bad hair day, ‘cause as a matter of fact, there is such a thing as a
bad hijab day, yaitu hari-hari di mana mau sebaik apapun Anda menata
jilbab, your face would still look like a watermelon. Berkenaan dengan masalah jilbab, saya akan jujur dengan Anda, terutama yang memang berniat untuk
istiqomah mengenakan jilbab.
I
have to say that before you cover your head with a hijab, do realize bahwa jika Anda sudah kembali ke ‘jalan yang lurus’, Anda akan
‘diminta’ masyarakat untuk tidak lagi ‘berkelak-kelok’ di jalanan lurus itu.
“Njir, ribet banget pake jilbab, pengen
lepas gue”
“Yauda, lepas aja, daripada lo pake jilbab
tapi masi *masukan semua pelanggaran norma masyarakat yang dianggap wajar hanya
apabila dilakukan oleh orang yang tidak mengenakan jilbab.*”
Tidak apa, saya
paham mengapa masyarakat beranggapan bahwa perempuan berjilbab tentu harus baik
budinya, lembut tuturnya, dan terjaga kemaluannya.
Alienation. Choices.
Stereotypes. Expectations. The Partriarch. All the answers are smeered on
the goddamn wall.
“Like,
oh my gawd, what is wrong with society? Semua
orang, kan, bebas ngelakuin apapun yang mereka mau” atau
“Lu pikir cewek gak bejilbab cacat moral
semua?” atau
“Cuuuyyy, selangkangan selangkangan gue gitu, bebaslah gue mau
ngangkang buat siapa.” atau
“Jilbab hanyalah simbol agama yang justru
memisahkan masyarakat beragama. Jaman gini masih ribut soal gituan? Korban
arabisasi lu.”
Bukan sekali-dua kali saya berpikir seperti
demikian. In my defense, sebagai
seorang perempuan yang sudah mengenakan jilbab sejak usia 7 tahun, jilbab tidak serta merta membuat seseorang less human than they already are. Sering
kali masyarakat beranggapan bahwa jilbab mengubah seseorang menjadi malaikat
yang sudah tentu patuh terhadap perintah-perintahNya; hence, alienating them
as a human with all their humanistic traits.
Kawan, jilbab tidak membuatmu
kehilangan nafsu dan syahwat. Tidak menghindarimu dari perbuatan zolim yang
mengatasnamakan Tuhan. Tidak menyulap wajahmu menjadi Bridget Bardot. Tidak
menghindarimu dari nasib buruk. Tidak menjadikan jodohmu lebih baik dari orang
lain. Tolonglah, kalau memang watak dan tabiatmu sebagai manusia jelek, mau apapun
yang kau tempelkan di kepala, you would still be ugly. Change comes
from people as an individual. Sure the things you wear might affect your
attitude, but it doesn’t work as a sin repellent. Kalau mau maksiat, ya
silahkan maksiat selagi nuranimu sebagai manusia mengizinkan. Kalau mau berbuat
baik dan memperlakukan orang dengan sopan, tidak perlu menunggu siapapun untuk mengenakan jilbab
terlebih dahulu. People will judge whatever you do anyway, be it good or
bad.
“Omongan setan yang
keluar dari mulutmu itu, Ekky! Perempuan-perempuan yang menutup aurat sampai yang
terlihat hanya dua biji matanya sudah dijanjikan Tuhan akan berjodoh dengan
orang yang baik pula!”
Siapapun yang masih beranggapan demikian, silakan
katakan ini kepada para perempuan di Timur Tengah sana yang menjadi korban
poligami, domestifikasi, dan kekerasan seksual suaminya. Barangkali mereka
kurang menutup aurat. Bahkan di negara kita saja tidak ada yang dapat menjamin seluruh
perempuan berjilbabnya kelak berjodoh dengan seorang imam yang lembut, soleh,
dan setia. So yeah, those dakwah accounts should stop feeding women with
such a cruel utopia.
Sebelum memutuskan untuk mengenakan jilbab,
banyak pula perempuan
bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah akhlak saya sudah pantas untuk
mengenakan jilbab?”.
Tidak perlu menjadi
ustadzah terlebih dahulu untuk mengatakan bahwa tidak akan ada masa di mana
Anda akan benar-benar merasa pantas. Apabila Anda dan kita semua mempertahankan
that one million dollar question
sebelum memutuskan apakah seorang perempuan sudah pantas untuk mengenakan
jilbab, kita akan senantiasa terjebak dalam konstruksi bahwa hal-hal
sesederhana pakaian dan atribut keagamaan dapat mendefenisikan moralitas
seseorang. Dengan demikian, alih-alih menjembatani hubungann seseorang dengan Tuhannya,
konsep jilbab dan moralitas justru mengalienasi perempuan dari spritualitas dan
identitasnya sebagai manusia. Semua orang berhak untuk mendosa, termasuk mereka yang berjilbab. Jadi kalau mau mulai berjilbab, ya pakai saja, tidak perlu merasa diri belum siap atau sebagainya. Kalaupun suatu saat Anda tidak nyaman dan ingin melepasnya, tinggal lepas, Sekali lagi, jika nurani Anda sebagai manusia membenarkan suatu perbuatan, silakan lakukan. Kita semua makhluk berakal dan berkesadaran. Pilihan-pilihan kita mengakibatkan timbulnya berbagai konsekuensi yang harus ditanggung secara pribadi dan oleh orang-orang yang terikat dengan diri kita.
Saya paham susah menjadi idealis
untuk hal-hal demikian. Bahkan hutan yang isinya binatang sekalipun ada
seperangkat peraturan yang mengikat, tidak mungkin rimba manusia yang kita
sebut masyarakat ini tidak ada. Saya sadari besar sekali tanggung jawab
seseorang yang mencintai Tuhan. Karena kita mencintaiNya sebagai manusia, maka
selayaknya manusia mencintai sesesama manusia, kita memiliki kapasitas yang
luar biasa terbatas dalam hal mencintaiNya secara utuh. Alasan di balik
munculnya berbagai ekspektasi yang tidak realistis terhadap perempuan dan
jilbab akan sangat panjang jika harus saya bahas dalam sebuah unggahan casual, oleh sebab itu, cukup sampai di sini tulisan saya.
Depok, 3 September 2016
love your words eky!eventhough i'm a christian, i totally agree. �� actually we've met each other before, i was your dormmatee when we're in competition training idk i forget it, something about go to japan,HAHA and found your twitter account, you are so talented!
ReplyDelete