Sunday, 4 September 2016

Tidak Semua


“Menurut gue mending lo gak pake jilbab sekalian daripada lo pake jilbab tapi masih cipokan ama ngebir, haha.”
Kata ganti orang kedua tunggal ‘lo’ tidak ditujukan kepada saya, tapi kalaupun benar saya perempuan berjilbab yang masih berbuat zinah dan maksiat, tidak masalah, saya toh tidak berkewajiban menjadi suri tauladan akhlak terpuji untuk memenuhi ekspektasi saudara-saudari sekalian.  

Kemarin siang teriknya bukan main, saya mengenakan jilbab dan baju terusan hitam ke kampus (‘cause I was too lazy to dress up but I still wanted to look like I tried LOL). Saya sedikit terburu-buru sebab sudah terlambat 15 menit dari waktu yang telah dijadwalkan. Sesampainya di gedung 4 kampus, firasat mengatakan bahwa saya harus segera memeriksa Line untuk memastikan kondisi kelas, dan benar saja, rupanya 10 menit yang lalu seorang teman mengirim pesan untuk mengabarkan bahwa kelas hari itu ditiadakan. Well, that sucks, I just busted Rp10.000,- for a canceled class. Masalah kuliah yang klise.

Karena datang ke kampus dengan terburu-buru, saya tidak sempat meluangkan waktu lebih untuk menata jilbab dengan baik sehingga wajah saya jadi terlihat seperti belewah. It took me around half an hour untuk sekadar menata jilbab di kamar mandi kampus. And you know what? It sucks. It sucks karena pakai jilbab tidak serta merta membuat diri Anda terhindar dari bad hair day, ‘cause as a matter of fact, there is such a thing as a bad hijab day, yaitu hari-hari di mana mau sebaik apapun Anda menata jilbab, your face would still look like a watermelon. Berkenaan dengan masalah jilbab, saya akan jujur dengan Anda, terutama yang memang berniat untuk istiqomah mengenakan jilbab.

I have to say that before you cover your head with a hijab, do realize bahwa jika Anda sudah kembali ke ‘jalan yang lurus’, Anda akan ‘diminta’ masyarakat untuk tidak lagi ‘berkelak-kelok’ di jalanan lurus itu.
“Njir, ribet banget pake jilbab, pengen lepas gue”
“Yauda, lepas aja, daripada lo pake jilbab tapi masi *masukan semua pelanggaran norma masyarakat yang dianggap wajar hanya apabila dilakukan oleh orang yang tidak mengenakan jilbab.*” 

Tidak apa, saya paham mengapa masyarakat beranggapan bahwa perempuan berjilbab tentu harus baik budinya, lembut tuturnya, dan terjaga kemaluannya.

Alienation. Choices. Stereotypes. Expectations. The Partriarch. All the answers are smeered on the goddamn wall.

“Like, oh my gawd, what is wrong with society? Semua orang, kan, bebas ngelakuin apapun yang mereka mauatau
“Lu pikir cewek gak bejilbab cacat moral semua?” atau
Cuuuyyy, selangkangan selangkangan gue gitu, bebaslah gue mau ngangkang buat siapa.” atau  
“Jilbab hanyalah simbol agama yang justru memisahkan masyarakat beragama. Jaman gini masih ribut soal gituan? Korban arabisasi lu.”
Bukan sekali-dua kali saya berpikir seperti demikian. In my defense, sebagai seorang perempuan yang sudah mengenakan jilbab sejak usia 7 tahun, jilbab  tidak serta merta membuat seseorang less human than they already are. Sering kali masyarakat beranggapan bahwa jilbab mengubah seseorang menjadi malaikat yang sudah tentu patuh terhadap perintah-perintahNya; hence, alienating them as a human with all their humanistic traits

Kawan, jilbab tidak membuatmu kehilangan nafsu dan syahwat. Tidak menghindarimu dari perbuatan zolim yang mengatasnamakan Tuhan. Tidak menyulap wajahmu menjadi Bridget Bardot. Tidak menghindarimu dari nasib buruk. Tidak menjadikan jodohmu lebih baik dari orang lain. Tolonglah, kalau memang watak dan tabiatmu sebagai manusia jelek, mau apapun yang kau tempelkan di kepala, you would still be ugly. Change comes from people as an individual. Sure the things you wear might affect your attitude, but it doesn’t work as a sin repellent. Kalau mau maksiat, ya silahkan maksiat selagi nuranimu sebagai manusia mengizinkan. Kalau mau berbuat baik dan memperlakukan orang dengan sopan, tidak perlu menunggu siapapun untuk mengenakan jilbab terlebih dahulu. People will judge whatever you do anyway, be it good or bad.

“Omongan setan yang keluar dari mulutmu itu, Ekky! Perempuan-perempuan yang menutup aurat sampai yang terlihat hanya dua biji matanya sudah dijanjikan Tuhan akan berjodoh dengan orang yang baik pula!” 

Siapapun yang masih beranggapan demikian, silakan katakan ini kepada para perempuan di Timur Tengah sana yang menjadi korban poligami, domestifikasi, dan kekerasan seksual suaminya. Barangkali mereka kurang menutup aurat. Bahkan di negara kita saja tidak ada yang dapat menjamin seluruh perempuan berjilbabnya kelak berjodoh dengan seorang imam yang lembut, soleh, dan setia. So yeah, those dakwah accounts should stop feeding women with such a cruel utopia.

Sebelum memutuskan untuk mengenakan jilbab, banyak pula perempuan bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah akhlak saya sudah pantas untuk mengenakan jilbab?”. 

Tidak perlu  menjadi ustadzah terlebih dahulu untuk mengatakan bahwa tidak akan ada masa di mana Anda akan benar-benar merasa pantas. Apabila Anda dan kita semua mempertahankan that one million dollar question sebelum memutuskan apakah seorang perempuan sudah pantas untuk mengenakan jilbab, kita akan senantiasa terjebak dalam konstruksi bahwa hal-hal sesederhana pakaian dan atribut keagamaan dapat mendefenisikan moralitas seseorang. Dengan demikian, alih-alih menjembatani hubungann seseorang dengan Tuhannya, konsep jilbab dan moralitas justru mengalienasi perempuan dari spritualitas dan identitasnya sebagai manusia. Semua orang berhak untuk mendosa, termasuk mereka yang berjilbab. Jadi kalau mau mulai berjilbab, ya pakai saja, tidak perlu merasa diri belum siap atau sebagainya. Kalaupun suatu saat Anda tidak nyaman dan ingin melepasnya, tinggal lepas, Sekali lagi, jika nurani Anda sebagai manusia membenarkan suatu perbuatan, silakan lakukan. Kita semua makhluk berakal dan berkesadaran. Pilihan-pilihan kita mengakibatkan timbulnya berbagai konsekuensi yang harus ditanggung secara pribadi dan oleh orang-orang yang terikat dengan diri kita.

Saya paham susah menjadi idealis untuk hal-hal demikian. Bahkan hutan yang isinya binatang sekalipun ada seperangkat peraturan yang mengikat, tidak mungkin rimba manusia yang kita sebut masyarakat ini tidak ada. Saya sadari besar sekali tanggung jawab seseorang yang mencintai Tuhan. Karena kita mencintaiNya sebagai manusia, maka selayaknya manusia mencintai sesesama manusia, kita memiliki kapasitas yang luar biasa terbatas dalam hal mencintaiNya secara utuh. Alasan di balik munculnya berbagai ekspektasi yang tidak realistis terhadap perempuan dan jilbab akan sangat panjang jika harus saya bahas dalam sebuah unggahan casual, oleh sebab itu, cukup sampai di sini tulisan saya. 

Depok, 3 September 2016

1 comment:

  1. love your words eky!eventhough i'm a christian, i totally agree. �� actually we've met each other before, i was your dormmatee when we're in competition training idk i forget it, something about go to japan,HAHA and found your twitter account, you are so talented!

    ReplyDelete